Pengembangan Kelapa Eksotik Provinsi Banten

  • Thursday, 20 Dec 2012 10:43 am | 7866 kunjungan
Pengembangan Kelapa Eksotik Provinsi Banten

PENGEMBANGAN KELAPA EKSOTIK BANTEN

 

  1. Latar Belakang

Pembangunan perkebunan ditujukan kepada kelestarian fungsi dan manfaatnya dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat yang diarahkan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan, pemberdayaan, kemandirian, kapasitas dan akses masyarakat dalam proses pembangunan berkelanjutan dan berkebudayaan industri maju dan efisien melalui peningkatan kualitas, kuantitas produksi dan distribusi serta keanekaragaman, pemanfaatan IPTEK untuk mengembangkan agroindustri, agrobisnis dan agrowisata serta untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.

Komoditas unggulan perkebunan yang dikembangkan di Provinsi Banten meliputi; Kelapa Sawit, Kelapa Dalam, Karet, Cengkeh, Kopi, Kakao dan Aren sebagai komoditasl unggul lokal spesifik dan perkebunan rakyat memegang angka tertinggi dalam aspek luasan dalam pengusahaan komoditas perkebunan, namun Perkebunan Rakyat masih belum menunjukan kontribusi signifikan terhadap Nilai Tukar Petani yang masih dibawah angka standar. Permasalahan klasik yang masih membelenggu pelaku usaha tani khususnya petani rakyat adalah ketidakmampuan mendongkrak rendahnya produksi dan produktivitas komoditas yang diusahakan.

Tanaman kelapa merupakan       asset   yang terluas pada kegiatan usaha tani pekebun, namun tingkat produktifitasnya masih dibawah standar potensi produksi. Pengembangan Kelapa terpadu, maupun peningkatan pengelolaan potensi sumber daya lokal merupakan  salah  satu  upaya  yang  dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil kelapa, meningkatkan nilai tambah dan pemberdayaan petani, perluasan kesempatan kerja, mempertahankan kelestarian sumber daya alam. Kegiatan ini tentu saja memerlukan penanganan serius dari semua unsur yang terlibat dan sebaiknya terpadu dalam satu kawasan agribisnis menyangkut kegiatan usaha sub sektor hulu sampai dengan sub sektor hilir.

Luas perkebunan kelapa rakyat di Provinsi Banten saat ini mencapai 100.157,65 ha yang tersebar dari wilayah utara sampai dengan selatan seperti Tangerang, Serang, Pandeglang dan Lebak. Salah satu keunikan dari komoditas ini adalah terdapatnya keadaan tertentu dari daging buah yang tidak padat alias terurai atau hancur namun memiliki cita rasa yang lebih sensasional, lebih gurih terasa di lidah. Sebenarnya, keadaan daging buah kelapa ini tidak standar atau rusak. Hal ini disebabkan oleh kekurangan salah satu enzim yang berperan dalam pembentukan daging buah, yaitu enzim -galaktosidase.. Daging buah yang tidak normal tersebut menyebabkan buah tidak mampu mendukung pertumbuhan embrio  secara alami Sifat ini diturunkan secara genetis. Kelapa ini sering disebut dengan kelapa kopyor. kelapa kopyor berasal dari jenis kelapa dalam da jenis kelapa genjah.

Pengembangan kelapa kopyor yang dilakukan oleh petani pada umumnya dengan menanam buah normal dari tandan yang menghasilkan buah kopyor, dengan harapan buah tersebut membawa sifat  kopyor. Bibit ini dikenal  dengan bibit alami.  Dapat pula dilakukan dengan menumbuhkan embrio  dari buah  kopyor pada media   buatan dalam lingkungan aseptik, yaitu dengan metode kultur embrio.

seperti di daerah sentra kelapa kopyor di Lampung  dan  Sumenep. Bibit diambil dari  tanaman kelapa tipe  Dalam yang  menghasilkan buah  kopyor. Perbanyakan dengan metode kultur embrio  pun  masih menggunakan kelapa kopyor tipe Dalam.  Balai Pe- nelitian  Tanaman Kelapa dan Palma Lain telah melakukan eksplorasi dan berhasil mendapatkan kelapa kopyor Genjah di daerah Pati Jawa Tengah. Kelapa kopyor Genjah lebih unggul dibanding kelapa kopyor. Jumlah tanaman dan produksi kelapa unik ini masih terbatas sehingga harga jualnya cukup mahal, antara Rp20.000-Rp35.000/butir atau 10  kali lipat buah  kelapa normal.

 

  1. Tujuan

 

Memberikan dukungan penyediaan benih unggul bermutu dan pengembangan komodtias unggulan Provinsi Banten dalam rangka peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk perkebunan guna mendukung:

  1. Perluasan areal perkebunan tanaman kelapa rakyat.
  2. Pengembangan kelapa eksotik dengan identitas geografis Banten di sentra produksi kelapa rakyat.
  3. Penguatan kelembagaan tani
  4. Memperluas kesempatan dan peluang kerja masyarakat.
  5. Menjaga kelestarian lingkungan

 

  1. Pengembangan Kelapa Eksotik Banten

 

Meskipun memiliki embrio (kenthos) normal, buah Kelapa kopyor tidak dapat secara langsung dijadikan benih (bibit, mengingat embrio terpisah dari daging buah sehingga  tidak terdapat cadangan nutrisi untuk pertumbuhannya. Embrio kelapa berupa butiran kecil agak memanjang berwarna putih dengan ukuran 1 sd. 1,5 mm. Dalam tiap butir kelapa sebenarnya ada tiga calon embrio. Letak embrio ini ada pada ujung (bagian atas yang bertangkai) pada tiap butir kelapa. Dari tiga calon embrio ini, umumnya hanya satu yang benar-benar jadi embrio.

Dari pengamatan yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten, maupun institusi lain seperti Balai Pengkajian Teknologi  Pertanian Banten, Balai Penelitian Kelapa Menado dan Institut Pertanian Bogor, diketahui bahwa populasi kelapa kopyor Banten banyak dijumpai di Wlayah Kabupaten Tangerang yaitu di Desa Kohod Kecamatan kohod. Potensi Jenis kelapa kopyor di Tangerang termasuk jenis Kelapa Dalam. Melihat potensi ekonomi yang disumbang dari penjualan produksi kelapa kopyor terhadap peningkatan pendapat masyarakat pekebun,

 

  1. Pelaksanaan Kegiatan

 

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provisni Banten pada tahun 2013 akan menindaklanjuti MoU Gubernur Banten dengan Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian yang ditanda tangani pada tanggal 16 Desember 2009 dalam rangkaian acara Gerakan Pengembangan Agribisnis Terpadu (GPAT) di Desa Sukasari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pandeglang dengan melakukan kerjasama Pengembanngan Kelapa Eksotik Banten dengan Balai Pengkajian Teknologi  Pertanian (BPTP) Banten, Balai Penelitian Kelapa Menado dan Institut Pertanian Bogor yang akan diawali dengan pembuatan Design Pengembangan Kelapa Eksotik Banten pada tahun 2012 dalam bentuk;

  1. Pembangunan Kebun Induk Kelapa Eksotik Banten di Desa Juhut Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang, seluas 4 hektar dengan jenis kelapa Dalam dan Kelapa Genjah yaitu : Kelapa Kopyor, Kelapa Lilin dan Kelapa Cungap Merah, dengan menggunakan benih yang berasal Kultur Embrio. Pelaksanaan pembangunan design akan disesuaikan dengan hasil kajian yang menyangkut tata letak dan pemanfaatan lahan kebun induk seperti untuk Kebun Induk, Kebun Produksi, Kebun percontohan dan lain sebagainya. Direncanakan, dalam pembangunan Kebun Induk Kelapa Kopyor akan menggunakan benih dari hasil Kultur Jaringan (Embrio). Harga benih ini memang relatif mahal berkisar Rp. 250.000 s.d Rp. 350.000 per batang, namun yang perlu dicatat adalah, dengan menggunakan jenis benih kultur embrio akan diperoleh kepastian produksi pada setiap tandan sampai  dengan 95 % adalah kelapa kopyor.
  2. Pengembangan percontohan kebun kelapa eksotik di Desa Kohod Kabupaten Tangerang seluas 5 hektar. Pengembangan ini  dapat ditempuh dengan metode pengutuhan melalui peningkatan vegetasi tanaman pada kebun masyarakat serta metode pengembangan kelapa eksotik dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan sisa lahan pekarangan.

 

  1. Peluang Pengembangan Kelapa Kopyor di Provinsi Banten

 

Permintaan pasar terhadap kelapa kopyor terus meningkat, Banten memiliki  posisi sangat strategis, wilayah terdekat dengan Jakarta  sebagai target pasar dan banyaknya lokasi wisata sebagai potensi pemasaran. Selanjutnya, tersedia potensi lahan perkebunan untuk pengembangan kelapa kopyor dengan Topografi wilayah Provinsi Banten berkisar pada ketinggian 0 – 1.000 m dpl, dengan kemiringan 0 - 25%, Jenis tanah di Banten   (Aluvial,   latosol.  regosol dan  andosol) memungkinkan untuk tanaman kelapa.

Kelebihan benih dari hasil kultur embrio adalah, peluang untuk menjadi pohon kelapa kopyor 99%. Artinya, bisa dipastikan benih dari kultur embrio akan menghasilkan individu pohon yang pasti berbuah kelapa kopyor, dengan demikian metode pengembangan benih  kultur  embrio ini sangat mendukung dalam mengantisipasi peluang dan tantangan yang ada.

 

 

  1. Pola Pengembangan Kelapa Eksotik

 

Melihat potensi yang dimiliki Provinsi Banten, rencana pengembangan Kelapa Eksotik ini memiliki peluang kemajuan yang tinggi dan diharapkan Kelapa Kopyor Banten akan mendapat pengakuan dari Menteri Pertanian sebagai komoditas dengan Indikasi spesifik Geografis sehingga Pemerintah  Provinsi Banten akan menjadi salah satu pemilik jenis kelapa kopyor di Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah 31 th 2009 tentang perlindungan wilayah geografis penghasil produk perkebunan spesifik lokasi.

  1. Skala Pekarangan

Keberhasilan sebuah usaha tani akan dipengaruhi oleh pola-pola yang sudah ada sebelumnya pada masyarakat, sehingga ketika dilaksanakan suatu kegiatan yang memang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat, maka tidak perlu laku melakukan pembentukan kognisi dan perubahan sikap terhadap kegaiatn yang akan dilaksanakan. Masyarakat di desa Kohod sudah memiliki kebiasaan dan familiar dengan tanaman kelapa, sehingga kegiatan pengembangan kelapa ini dapat juda diolaksanakan dalam skala rumah tangga pada pekarangan dengan jumlah tanaman 10 pohon sudah dapat menjadi peluang penambahan penghasilan. 

 

  1. Skala  Kebun

 

Ukuran luasan perkebunan adalah ekuivalen jumlah tanaman terhadap satuan hektar sesuai  dengan baku teknis yang ditetapkan. Semisal dengan jarak tanam 9 m x 9 m atau 10 m x 10 m, maka dalam 1 (satu) hektar lahan akan terdapat 123 atau 100 pohon. Jadi Selain menanam pada lahan atau kebun secara khusus,, dapat juga seorang petani padi menanam kelapa pada galengan, apabila jumlah tanaman kelapa mencapai 100 atau 123 pohon maka dapat dihitung telah menaman seluas 1 hektar.

Statistik Pengunjung

Visit Today 45
Total Visit 380,421
Hits Today 45
Total Hits 534,441
Who's Online 44

Your IP : 54.82.112.193